Resume Webinar Kemendikti: Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk Mendukung Riset dan Publikasi
Penyelenggara: Direktorat Bina Talenta Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Sains & Teknologi) Tanggal Pelaksanaan: 22 April 2026 Narasumber: Dr. Hasan Subekti, S.Pd., M.Pd. (Dosen & Peneliti Universitas Negeri Surabaya)
1. Pendahuluan & Latar Belakang
Di era disrupsi teknologi saat ini, pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam ranah tridarma perguruan tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdian) bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan. Banyak dosen dan peneliti menghadapi berbagai tantangan seperti:
- Keterbatasan Waktu: Beban mengajar yang tinggi dan tugas administratif (SKP, Akreditasi) menyita waktu untuk meneliti.
- Kendala Bahasa: Kesulitan dalam penulisan bahasa Inggris akademik (grammar dan proofreading) untuk publikasi jurnal internasional berskala tinggi (Scopus).
- Banjir Informasi: Kesulitan menyortir ribuan referensi literatur yang terus berkembang dengan cepat.
- Ancaman Plagiasi: Kekhawatiran tingkat similaritas (Turnitin) yang tinggi.
Webinar Kemendikti ini menegaskan bahwa AI bukanlah pengganti peran peneliti, melainkan alat bantu (tool) yang mempercepat waktu, meningkatkan efisiensi, dan menjaga kualitas luaran riset. Kunci utamanya tetap pada Expert Judgement dari sang peneliti.
2. Pemanfaatan AI untuk Tahapan Riset & Penyusunan Proposal (DRTPM/DPPM)
Dr. Hasan Subekti secara khusus menyoroti penggunaan AI untuk menyusun draf proposal penelitian dan luaran riset. Beberapa strategi dan rekomendasi tools yang dapat diaplikasikan:
A. Pencarian Ide, Draf Penulisan, dan Ringkasan
Untuk menyusun Latar Belakang atau Ringkasan Proposal (seperti pada format DRTPM/DPPM yang membatasi jumlah kata, misal maksimal 300 kata), peneliti dapat menggunakan ChatGPT, Claude AI, atau Jenny AI.
- Tips Prompting: Tuliskan prompt secara spesifik. Contoh: "Buatkan ringkasan proposal penelitian maksimal 290 kata, mencakup urgensi, tujuan, metode, dan target luaran untuk penelitian dengan judul [Judul Anda]."
- Jenny AI: Sangat disarankan bagi peneliti yang kesulitan memulai paragraf (mengatasi writer's block). Masukkan satu kalimat pemantik, dan AI ini akan membantu meneruskan draf penulisan.
B. Studi Literatur (Literature Review) & Pencarian Referensi
Menyortir jurnal tidak lagi harus dibaca satu per satu secara manual.
- Elicit AI: Digunakan untuk mengekstraksi informasi spesifik dari berbagai paper (seperti metode, temuan gap, ringkasan abstrak, subjek penelitian) secara langsung ke dalam bentuk matriks/tabel.
- Open Knowledge Maps: Membantu memetakan tren penelitian dan visualisasi gap analysis.
- scite_ (Scite.ai): Berguna untuk mengecek validitas sitasi dan melihat apakah sebuah paper didukung (supported) atau dibantah (contrasted) oleh paper lain.
C. Pembuatan Visualisasi & Roadmap Penelitian
Roadmap penelitian adalah komponen krusial dalam proposal hibah berskala nasional.
- Jangan menggunakan tabel teks biasa atau gambar yang terlalu sederhana.
- Gunakan Canva (yang sering digratiskan menggunakan akun kementerian/kampus) yang diintegrasikan dengan fitur AI-nya untuk men-generate desain roadmap.
- Prompting di Claude/ChatGPT Pro dapat diminta untuk menghasilkan kerangka roadmap terstruktur (Masa Lalu, Saat Ini, dan Target Masa Depan, misal menuju Indonesia Emas 2045) yang kemudian di-desain di Canva atau PowerPoint.
D. Manajemen Referensi & Pengolahan Data
- Referensi: Wajib menggunakan Reference Manager seperti Mendeley, Zotero, atau EndNote agar format sitasi (misal: APA, IEEE, Numbered) akurat dan sesuai dengan template panduan hibah/jurnal.
- Analisis Data: Untuk analisis kualitatif deskriptif, dapat menggunakan NVivo.
3. Isu Etika, Integritas Akademik, dan Plagiasi (Turnitin)
Menurut UNESCO dan regulasi institusi, penggunaan AI dalam riset diperbolehkan dengan mengutamakan transparansi, akuntabilitas, dan kejujuran.
Terkait dengan deteksi AI dan Plagiasi di Turnitin, narasumber membagikan best practice berikut:
- Jangan Unggah Keseluruhan Draf ke Web AI: Jangan meng-copy-paste draf penuh ke website grammar checker gratisan yang digunakan bersama. Hal ini akan terbaca sebagai repository dan menyebabkan skor Turnitin melonjak tajam (bisa mencapai 90%-95%).
- Gunakan Plugin Terintegrasi: Integrasikan alat seperti Grammarly atau QuillBot langsung ke dalam Microsoft Word (Add-ins). Ini mencegah pencurian ide dan menekan tingkat deteksi AI.
- Parafrase Bertahap: Lakukan parafrase menggunakan AI (seperti Quillbot) pada kalimat per kalimat atau segmen yang pendek, bukan satu paragraf/halaman utuh secara langsung.
- Trik Mengatasi Deteksi AI Tinggi: Jika draf sudah terdeteksi tinggi, gunakan teknik translasi balik (Indonesia -> Inggris -> Indonesia), lalu parafrase ulang secara perlahan, dibarengi dengan sentuhan bahasa natural (human touch / expert judgement).
4. Kesimpulan
- Dosen dan peneliti harus menjadi pengguna alat yang cerdas ("ibarat tukang kayu, gunakan gergaji untuk memotong kayu, jangan menggunakan palu"). Pilihlah tool AI yang spesifik untuk tugas yang spesifik.
- Kendali utama, validasi referensi, dan klaim kebenaran (interpretasi hasil riset) sepenuhnya berada di tangan peneliti (Expert Judgement), bukan pada AI. AI bertugas sebagai asisten yang efisien.
- Di tengah proses penyusunan proposal, penolakan (reject) adalah hal biasa. Semangat, adaptasi dengan teknologi, dan konsistensi adalah kunci lolosnya pendanaan dan publikasi riset.
Disusun sebagai referensi untuk mendukung penyusunan Proposal Hibah DPPM 2026.
Sumber: https://www.youtube.com/live/Y22Dc0MdmU8?si=ODSY-cfcnhQwe8MY
Tim Redaksi
LPPM UM Metro